TERTAWALAH SEBELUM TERTAWA ITU DILARANG - WARKOP DKI

Kamis, 23 April 2015

PEMBELAJARAN BERBASIS BIMBINGAN



Resume Kelompok 7

A.    Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis Bimbingan
1.      Konsep Bimbingan
Bimbingan merupakan terjemahan dari “Guidance”. Guidance berasal dari akar kata “Guide” yang secara luas bermakna mengarahkan (to direct), memandu (to pilot), mengelola (to manage), menyampaikan (to descript), mendorong (to motivate), membantu mewujudkan (helping to create), memberi (to giving), bersunguh-sungguh (to commit). Sehingga bila dirangkai dalam sebuah kalimat konsep, Bimbingan adalah usaha sadar secara demokratis dan sungguh-sungguh untuk memberikan bantuan dengan menyampaikan arahan, panduan, dorongan, dan pertimbangan agar yang diberi bantuan mampu mengelola, mewujudkan apa yang menjadi harapannya.

2.      Konsep Pembelajaran dan Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Belajar adalah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilam, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain. pembelajaran berbasis bimbingan itu sangatlah penting untuk diterapkan karena pembelajaran yang baik, tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif saja, akan tetapi dapat menghasilkan sebuah output berupa lahirnya perubahan perilaku peserta didik yang positif dan normatif. Maka, menurut Budiman (Najjah, 2015), pembelajaran berbasis bimbingan seharusnya berlandaskan pada prinsip-prinsip bimbingan yaitu:
a.    Didasarkan pada Needs assessment (sesuai dengan kebutuhan)
b.    Dikembangkan dalam suasana membantu (helping relationship)
c.    Bersifat memfasilitasi
d.   Berorientasi pada: (1) learning to be (belajar menjadi); (2) learning to learn (belajar untuk belajar); (3) learning to work (belajar untuk bekerja dan berkarir); (4) learning to live together (belajar untuk hidup bersama).
e.    Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal.

3.      Ciri-ciri Model Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Menurut Kartadinata dan Dantes (dalam Mariyana, 2008, hlm. 2) pembelajaran berbasis bimbingan memiliki ciri-ciri berikut:
a.    Diperuntukkan bagi semua siswa.
b.    Memperlakukan siswa sebagai individu yang unik dan sedang berkembang.
c.    Mengakui siswa sebagai individu yang bermartabat dan berkemampuan.
d.   Terarah ke pengembangan segenap aspek perkembangan anak secaramenyeluruh dan optimal.
e.    Disertai dengan berbagai sikap guru yang positif dan mendukung aktualisasi berbagai minat, potensi, dan kapabilitas siswa sesuai dengan norma-norma kehidupan yang dianut.

4.      Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Bimbingan
Pembelajaran berbasis bimbingan merupakan pembelajaran yang berdasarkan pada prinsip-prinsip bimbingan sehingga prinsip-prinsip pembelajaran berbasis bimbingan pun tidak terlepas dari prinsip-prinsip bimbingan yaitu:
a.    Proses membantu individu
b.    Bertitik tolak pada individu yang dibimbing
c.    Didasarkan pada pemahaman atas keragaman individu yang dibimbing
d.   Pada batas tertentu perlu ada referal
e.    Dimulai dengan identifikasiatas kebutuhan individu
f.     Diselenggarakan secara luwes dan fleksibel
g.    Sejalan dengan visi dan misi lembaga
h.    Dikelola dengan orang yang memiliki keahlian di bidang bimbingan
i.      Ada sistem evaluasi yang digunakan
Adapun pembelajaran yang berlandaskan pada prinsip-prinsip bimbingan menurut Budiman (2008) adalah:
a.       Didasarkan pada Needs Assesment
b.      Dikembangkan dalam Suasana Membantu (Helping Relationship)
c.       Empati
d.      Keterbukaan
e.       Kehangatan psikologis
f.       Realistis
g.      Bersifat memfasilitasi
h.      Berorientasi pada: Learning to be, Learning to learn, Learning to work, Learning to live together
i.        Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal.

Selasa, 14 April 2015

MASALAH-MASALAH SISWA DI SEKOLAH SERTA PENDEKATAN-PENDEKATAN UMUM DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING (STRATEGI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING)



Resume Kelompok 6

A.    Masalah-masalah Siswa di Sekolah
Siswa di sekolah sebagai manusia (individu) dapat dipastikan memiliki masalah, tetapi kompleksitas masalah-masalah yang dihadapi oleh individu yang satu dengan yang lainnya tentulah berbeda-beda. Tohirin (2007: 111) mengungkapkan bahwa siswa di sekolah  akan mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan:
1.      Perkembangan individu,
2.      Perbedaan individu dalam hal: kecerdasan, kecakapan, hasil belajar, bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita, kebutuhan, minat, pola-pola dan tempo perkembangan, ciri-ciri jasmaniah, dan latar belakang lingkungan,
3.      Kebutuhan individu dalam hal: memperoleh kasih sayang, memperoleh hargadiri, memperoleh penghargaan yang sama, ingin dikenal, memperoleh prestasi dan posisi, untuk dibutuhkan orang lain, merasa bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan diri, dan untuk memperoleh kemerdekaan diri,
4.      Penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku,
5.      Masalah belajar.
M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) mengklasifikasikan masalah individu termasuk siswa sebagai berikut:
1.  Masalah atau kasus yang berhubungan problematika individu dengan Tuhannya.
2.  Masalah individu dengan dirinya sendiri.
3.  Individu dengan lingkungan keluarga.
4.  Individu dengan lingkungan kerja.
5.  Individu dengan lingkungan sosialnya.
Semua masalah di atas harus diidentifikasi oleh guru pembimbing di sekolah, sehingga bisa menetapkan sekala prioritas masalah mana yang harus dibicarakan terlebih dahulu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Masalah – masalah diatas juga harus menjadi pertimbangan bagi guru pembimbing di sekolah  dalam menyusun program bimbingan dan konseling.
Beberapa contoh masalah-masalah di sekolah yang dikemukakan dalam Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling:
1.      Prestasi belajar rendah; di bawah rata-rata; merosot.
Gambaran lebih rinci:
a.       Nilai rapor banyak merahnya;
b.      Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah;
c.       Dari waktu ke waktu nilai menurun;
d.      Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk berbagai atau beberapa mata pelajaran;
e.       Mendapat peringkat di bawah rata-rata dalam satu kelas.
2.      Kurang berminat pada bidang studi tertentu.
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Tidak dapat memusatkan perhatian untuk mempelajari materi-materi yang terkait pada bidang studi tersebut;
b.      Berusaha tidak mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut;
c.       Tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut.
3.      Bentrok dengan guru.
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Tidak mengikuti pelajaran dengan guru tersebut;
b.      Tidak mau bertemu dengan guru tersebut;
c.       Jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut;
4.      Melanggar tata tertib.
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Sejumlah tata tertib sekolah tidak dipatuhi, misalnya: tentang kehadiran di sekolah, baju seragam, tempat duduk dalam kelas, penyelesaian tugas-tugas;
b.      Pelanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja;
c.       Pelanggaran tersebut dilakukan berkali-kali.
5.      Membolos.
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Berhari-hari tidak masuk sekolah;
b.      Tidak masuk sekolah tanpa izin;
c.       Sering keluar pada jam pelajaran tertentu;
d.      Tidak masuk kembali setelah minta izin;
6.      Terlambat masuk sekolah.
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Sering tiba di sekolah setelah jam pelajaran dimulai;
b.      Memakai waktu istirahat melebihi waktu yang ditentukan;
c.       Sengaja melambat-lambatkan diri masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah mulai.
7.      Pendiam.
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Kurang mau berbicara atau bertegur sapa;
b.      Kurang akrab terhadap teman atau guru;
c.       Tidak ceria.
8.      Kesulitan alat pelajaran.
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Tidak memiliki buku-buku untuk berbagai mata pelajaran;
b.      Tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis;
c.       Tidak mampu membeli alat-alat pelajaran, seperti alat-alat untuk praktek berbagai mata pelajaran.
9.      Bertengkar atau berkelahi.
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Sering salah paham dengan kawan;
b.      Sombong;
c.       Memperolokkan, mengejek dan menantang orang lain;
10.  Sukar menyesuaikan diri
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Sering terjadi salah paham dengan kawan;
b.      Sombong atau tinggi hati;
c.       Suka membanding-bandingkan dan menjelekkan orag lain;
d.      Tidak mau menerima pendapat orang lain;

Minggu, 05 April 2015

TEKNIK-TEKNIK DASAR PEMAHAMAN INDIVIDU


Resume Kelompok 5
 
A.    Pengertian Individu
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan divided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan. Dalam Bahasa Latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tidak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Setiap manusia memiliki ciri khas dan keunikan atau ciri khas sendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Sekalipun orang itu terlahir secara kembar, mereka tidak ada yang memiliki ciri fisik dan psikis yang persis sama.

B.     Pengertian Pemahaman Individu
Pemahaman indvidu adalah merupakan awal dari kegiatan bimbingan dan konseling. Tanpa adanya pemahaman terhadap individu, sangat sulit bagu guru pembimbing untuk memberikan bantuan karena pada dasarnya bimbingan adalah bantuan dalam rangka pengembangan pribadi.
Pemahaman individu oleh Aiken (1997, hlm. 454) diartikan sebagai “Appraising the presence or magnitude of one or more personal characteristic. Assessing human behavior and mental processes includes such procedures as observations, interviews, rating, scale, check list, inventories, projective techniques, and tests”.

C.     Pengumpulan Data
1.      Prinsip Pengumpulan Data
Prinsip-prinsip pengumpulan dan penyimpanan data, yaitu:
a.       Kelengkapan data
b.      Relevansi data
c.       Keakuratan data
d.      Efisiensi penyimpanan data
e.       Efektivitas penggunaan data

2.      Macam-macam Data
Macam-macam data:
a.       Kecakapan
1)      Kecakapan potensial (potential ability)
2)      Kecakapan actual (actual ability)
b.      Kepribadian
1)      Fisik dan kebebasan
2)      Psikis
3)      Kegiatan : ekstrakurikuler
4)      Keunggulan-keunggulan dalam bidang: akademik. Keagamaan. Olahraga, kesenian, keterampilan, sosial, dll.
5)      Pengalaman istimewa dan prestasi yang telah diraih
6)      Latar belakang
7)      Agama dan moral